Lewati ke konten
Gambar artikel Dasar Penulisan Subtitle
Aegisub

Dasar Penulisan Subtitle

Iky · 16 Agt 2026 · 11 menit baca

Subtitle yang baik bukan sekadar hasil terjemahan yang benar. Teks juga harus singkat, natural, mudah dipahami, sesuai konteks, dan tetap nyaman dibaca dalam waktu yang terbatas.

Capaian Bahasan

Setelah menyelesaikan Level 1, kamu diharapkan dapat memahami dan menjawab pertanyaan berikut:
  • Apa yang membuat sebuah subtitle nyaman dibaca?
  • Apakah semua ucapan harus diterjemahkan kata per kata?
  • Kapan menggunakan bahasa formal, semi-formal, atau casual?
  • Bagaimana menyesuaikan gaya bahasa dengan karakter?
  • Bagaimana cara memecah subtitle yang terlalu panjang?
  • Kapan sebuah dialog sebaiknya dibuat menjadi dua baris?
  • Berapa banyak informasi yang sebaiknya ditampilkan dalam satu subtitle?
  • Bagaimana menangani dialog yang terlalu cepat?
  • Bagaimana menggunakan tanda baca pada subtitle?
  • Bagaimana menulis percakapan dua karakter yang muncul bersamaan?
  • Bagaimana menangani istilah, honorific, dan kata-kata Jepang?
  • Kesalahan apa saja yang sering dilakukan pemula ketika menulis subtitle?
  • Bagaimana menjaga konsistensi terjemahan sepanjang satu episode?
  • Apa yang harus diperiksa sebelum sebuah dialog dianggap selesai?

Dasar Penulisan Subtitle yang Nyaman Dibaca

Subtitle berbeda dengan tulisan dalam buku atau artikel. Pembaca subtitle harus melakukan beberapa hal secara bersamaan:
  • Melihat adegan.
  • Mendengarkan suara.
  • Membaca subtitle.
  • Memahami konteks.
  • Mengikuti perubahan scene.
Karena itu, subtitle sebaiknya dibuat ringkas dan mudah dipahami dalam sekali baca. Misalnya terjemahan berikut:
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata dia sudah mengetahui semua yang selama ini kita sembunyikan darinya
Secara bahasa kalimat tersebut tidak salah, tetapi cukup panjang untuk sebuah subtitle. Kalimat tersebut dapat disederhanakan menjadi:
Aku tidak menyangka dia sudah tahu semuanya.
Informasi utamanya tetap tersampaikan, tetapi pembaca membutuhkan waktu lebih sedikit untuk memahaminya.

Prinsip Dasarnya

Saat membuat subtitle, prioritaskan:
  1. Makna.
  2. Konteks.
  3. Keterbacaan.
  4. Karakterisasi.
  5. Baru kemudian struktur bahasa sumber.
Jangan memaksakan susunan kalimat bahasa sumber jika hasil akhirnya terdengar tidak natural dalam bahasa Indonesia.

Terjemahan Literal dan Terjemahan Natural

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah menerjemahkan setiap kata secara langsung. Terjemahan seperti ini disebut terjemahan LITERAL. Misalnya:
ちょっと待って!
Chotto matte!
Secara literal dapat diterjemahkan:
Tunggu sedikit!
Namun dalam percakapan bahasa Indonesia, bentuk yang lebih NATURAL adalah:
Tunggu!
Atau:
Tunggu dulu! | / | Tunggu sebentar!
Keduanya dapat benar tergantung situasi.

Jangan Hanya Menerjemahkan Kata!

Perhatikan:
  • Siapa yang berbicara?
  • Kepada siapa dia berbicara?
  • Apa situasinya?
  • Bagaimana emosinya?
  • Apa yang terjadi sebelumnya?
  • Apakah kalimat tersebut serius, bercanda, marah, atau mengejek?
Subtitle seharusnya menyampaikan maksud dialog, bukan sekadar memindahkan kata dari bahasa satu ke bahasa lainnya.

Formal, Semi-Formal, dan Casual

Tidak semua karakter harus menggunakan gaya bahasa yang sama. Dalam bahasa Indonesia, gaya bahasa dapat dibagi secara sederhana menjadi:
  • Formal.
  • Semi-formal.
  • Casual.
Bahasa Formal
Contoh:
Saya tidak mengetahui hal tersebut.
Cocok digunakan pada situasi seperti:
  • Pertemuan resmi.
  • Berbicara dengan atasan.
  • Karakter yang sangat sopan.
  • Pengumuman.
  • Lingkungan profesional.
Bahasa Semi-Formal
Contoh:
Saya tidak tahu soal itu.
Strukturnya tetap sopan, tetapi terdengar lebih natural untuk percakapan.

Bahasa Casual
Contoh:
Aku nggak tahu soal itu.
Atau:
Aku enggak tahu soal itu.
Cocok untuk:
  • Teman dekat.
  • Saudara.
  • Karakter remaja.
  • Percakapan sehari-hari.
Tidak ada satu gaya yang selalu benar. Konteks karakter menentukan pilihan bahasa.

Menyesuaikan Bahasa dengan Karakter

Subtitle yang baik juga membantu mempertahankan kepribadian karakter. Bayangkan terdapat tiga karakter berbeda yang menyampaikan maksud yang sama.

Karakter A:
Saya tidak bermaksud melakukan hal tersebut.
Karakter B:
Aku nggak bermaksud begitu.
Karakter C:
Bukan gitu maksud gue!
Informasinya hampir sama, tetapi kepribadian yang terasa berbeda. Beberapa hal yang dapat diperhatikan:
  • Usia.
  • Kepribadian.
  • Hubungan antarkarakter.
  • Status sosial.
  • Tingkat kesopanan.
  • Kebiasaan berbicara.
  • Situasi percakapan.
Karakter yang pendiam tidak harus diterjemahkan dengan gaya yang sama seperti karakter yang ceria dan ekspresif.

Konsistensi Kata Ganti

Pemilihan kata ganti sangat memengaruhi karakterisasi. Contohnya:
  • Saya.
  • Aku.
  • Gue.
  • Kamu.
  • Anda.
  • Kau.
  • Lo.
Jika sejak awal seorang karakter menggunakan:
Aku / Kamu
Usahakan tidak tiba-tiba berubah menjadi:
Gue / Lo
Namun perubahan gaya bahasa dapat dilakukan ketika memang ada perubahan konteks. Sebagai contoh, karakter menggunakan:
Saya
Ketika berbicara dengan guru. Namun menggunakan:
Aku
Ketika berbicara dengan teman. Hal tersebut justru lebih natural.

Cara Memecah Dialog yang Panjang

Subtitle yang terlalu panjang dapat membuat penonton sibuk membaca dan kehilangan fokus terhadap video. Contoh:
Aku pergi ke sekolah tadi pagi karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan wali kelas mengenai kejadian kemarin.
Kalimat seperti ini mungkin perlu dipisahkan apabila terdapat jeda atau struktur dialog yang memungkinkan. Misalnya:
Aku pergi ke sekolah tadi pagi ...
... untuk bicara dengan wali kelas.
Kemudian pada subtitle berikutnya:
Aku ingin membahas kejadian kemarin.
Namun perlu diperthatikan, pembagian dialog harus berdasarkan ucapan karakter, jika karakter tidak menjeda dialognya maka dipecah menggunakan kata sambung (...) untuk menyambung dialog yang terlalu panjang tanpa mengubah makna.

Usahakan memotong pada bagian yang natural seperti:
  • Setelah klausa.
  • Setelah jeda.
  • Setelah satu gagasan selesai.
  • Sebelum gagasan berikutnya dimulai.
Hindari pemisahan seperti:
Aku ingin pergi ke ...
... sekolah besok pagi.
Lebih baik:
Aku ingin pergi ...
... ke sekolah besok pagi.
Atau jika masih cukup pendek mending di gabung saja.
Aku ingin pergi ke sekolah besok pagi.

Line Breaking: Satu Baris atau Dua Baris?

Subtitle dialog biasanya ditampilkan dalam satu atau dua baris.
Contoh satu baris:
Kita pulang sekarang.
Contoh dua baris:
Setelah semuanya selesai,
kita bisa pulang bersama.
Dua baris bukan berarti sebuah kalimat boleh dipotong di sembarang tempat, hanya kata-kata yang maknanya jika dipisah tidak ambigu. Pemisahan yang kurang baik sebagai berikut:
Aku sudah mengatakan kepadanya kalau kita ...
... tidak akan datang ke sekolah besok.
Kata-kata yang secara struktur berhubungan menjadi terasa terpisah. Jika itu terjadi, audiens/pembaca akan merasa tidak nyaman dengan terjemahannya karena pergantian teks seolah tidak nyambung. Pemisahan yang lebih baik sebagai berikut:
Aku sudah mengatakan kepadanya ...
... kalau kita tidak akan datang besok.
Usahakan setiap baris memiliki kelompok makna yang jelas. Hindari baris yang sangat tidak seimbang seperti ini:
Aku tidak tahu kenapa dia melakukan semua itu ...
... tadi.
Ini sangat mungkin dijadikan satu, pemborosan layer jika menerapkan hal seperti ini. Contoh yang benar:
Aku tidak tahu kenapa dia melakukan semua itu tadi.
Keseimbangan visual bukan satu-satunya aturan, tetapi dapat membantu subtitle terlihat lebih nyaman. Jangan Memasukkan Terlalu Banyak Informasi. Tidak semua informasi dari bahasa sumber harus selalu dipertahankan secara literal. Bahasa Jepang misalnya, Bahasa tersebut memiliki berbagai ekspresi yang apabila diterjemahkan seluruhnya dapat membuat subtitle terasa berlebihan. 

Contoh sederhana:
あの… その… なんというか…
Ano... sono... nantoiu ka...
Jika diterjemahkan secara sangat literal:
Itu... anu... bagaimana mengatakannya...
Tergantung konteks, bisa saja dibuat lebih natural menjadi:
Anu... gimana, ya...
Tujuan utamanya adalah mempertahankan:
  • Keraguan.
  • Emosi.
  • Maksud karakter.
Bukan mempertahankan setiap kata secara mekanis.

Mengatur Durasi Teks Secara Logis

Pengaturan timing secara detail akan dibahas pada artikel selanjutnya, tetapi penulis subtitle tetap harus memahami hubungan antara panjang teks dan waktu baca. Jika sebuah dialog hanya muncul dalam waktu singkat, jangan memenuhi layar dengan paragraf panjang.

Misalnya karakter berbicara sangat cepat selama sekitar dua detik.
Sebenarnya sejak pertama kali kita bertemu aku sudah merasa ada sesuatu yang aneh mengenai dirimu
Subtitle sepanjang ini akan sulit dibaca apabila waktu tampilnya sangat singkat. Pertimbangkan penyederhanaan seperti:
Sejak awal, aku merasa ada yang aneh denganmu.
Makna utama masih dipertahankan tetapi lebih mudah dibaca. Meringkas bukan berarti bebas menghapus informasi penting. Contoh asli memiliki makna:
Besok pukul tujuh, temui aku di depan stasiun.
Jangan disederhanakan menjadi:
Temui aku besok.
Informasi Pukul tujuh dan Lokasi di depan stasiun merupakan bagian penting dari dialog. Prinsipnya adalah singkatkan bentuk kalimat, bukan makna pentingnya.

Penggunaan Tanda Baca

Tanda baca membuat subtitle lebih mudah dipahami. Gunakan tanda baca sesuai fungsi.
Tanda BacaFungsi dan KegunaanContoh Kalimat
Titik (.)Digunakan ketika sebuah pernyataan selesai.
Aku akan pulang besok.
Koma (,)Digunakan untuk memberikan pemisahan yang memang diperlukan.
Kalau begitu, kita berangkat sekarang.
Tanda Tanya (?)Untuk pertanyaan.
Kamu sudah makan?
Tanda Seru (!)Untuk dialog yang membutuhkan penekanan.
Cepat pergi!
Elipsis (...)/(....)Elipsis dapat digunakan untuk menunjukkan keraguan, kalimat yang menggantung dan jeda tertentu.
Aku sebenarnya...

Dialog yang Terputus

Ada kalanya seorang karakter belum menyelesaikan kalimatnya karena dipotong karakter lain. Contoh:

Karakter A:
Aku sebenarnya ingin—
Karakter B:
Sudah, tidak perlu dijelaskan.
Tanda pisah dapat membantu menunjukkan bahwa ucapan karakter pertama terpotong secara tiba-tiba. Sementara elipsis lebih cocok untuk dialog yang perlahan berhenti atau ragu.

Contoh:
Kalau saja waktu itu aku...
Perbedaan kecil seperti ini dapat membantu menyampaikan cara dialog diucapkan.

Dalam beberapa scene, dua karakter dapat berbicara hampir atau benar-benar bersamaan. Jika keduanya penting, subtitle perlu dibuat agar penonton dapat membedakan pembicaranya. Salah satu pendekatan sederhana:
—Kamu mau ke mana?
—Aku pulang dulu.
Namun penggunaannya harus konsisten dengan standar subtitle yang dipakai dalam project. Pada kasus yang lebih kompleks, Aegisub juga memungkinkan dialog ditempatkan pada posisi berbeda. Misalnya:
  • Dialog karakter pertama di bawah.
  • Dialog karakter kedua di atas.
Teknik positioning tersebut akan dibahas pada artikel mendatang.

Cara Menangani Dialog Cepat

Anime sering memiliki scene dengan percakapan cepat. Kesalahan yang umum adalah mencoba mempertahankan seluruh kata hingga subtitle berubah terlalu cepat. Untuk dialog cepat:
  1. Tentukan informasi utama.
  2. Pertahankan maksud karakter.
  3. Hilangkan pengulangan yang tidak penting jika memang diperlukan.
  4. Gunakan kalimat yang lebih pendek.
  5. Jangan membuat terlalu banyak subtitle berkedip dalam waktu singkat.
Contoh:
Sudah kubilang berkali-kali kalau aku sama sekali tidak tahu soal itu!
Dapat menjadi:
Sudah kubilang, aku nggak tahu soal itu!
Emosi masih tersampaikan dan teks menjadi lebih ringkas.
Jika kalian penasaran, kalian bisa tonton Anime Saiki Kusou yang dialognya berjalan dengan cepat. Kalian bisa belajar menata bahasa yang efektif.

Menangani Pengulangan Dialog

Karakter terkadang mengulang sebuah kata. Contoh:
待って、待って、待って!
Matte, matte, matte!
Tidak selalu harus diterjemahkan menjadi:
Tunggu, tunggu, tunggu!
Jika pengulangannya penting untuk menunjukkan kepanikan, bentuk tersebut dapat dipertahankan. Namun tergantung konteks, dapat pula diterjemahkan:
Tunggu dulu!
Jangan menghapus pengulangan secara otomatis. Pertimbangkan fungsi pengulangan tersebut terhadap karakter dan scene.

Honorific Jepang

Dalam subtitle anime sering ditemukan honorific seperti:
  • -san
  • -kun
  • -chan
  • -sama
  • -senpai
  • -sensei
Tidak ada satu aturan yang wajib digunakan untuk semua project, namun ada dua pendekatan umum yaitu mempertahankan honorific.
Yamada-san.
Atau menyesuaikannya ke dalam Bahasa Indonesia. Itu semua tergantung konteks dan keadaan.
Pak Yamada.
atau cukup:
Yamada.
Pilihan tersebut sebaiknya ditentukan sejak awal project dan digunakan secara konsisten. Beberapa istilah Jepang mungkin sudah cukup dikenal. Misalnya:
  • Senpai.
  • Sensei.
  • Bento.
  • Onsen.
  • Yukata.
Namun dikenal bukan berarti selalu harus dipertahankan, melainkan pertimbangkan siapa target pembaca subtitle. Jika istilah tersebut memiliki padanan Indonesia yang lebih mudah dipahami, terjemahan dapat digunakan. Contoh:
文化祭
Bunkasai
Dapat diterjemahkan menjadi:
Festival budaya.
Tidak perlu mempertahankan 'bunkasai' jika tidak ada alasan khusus.

Nama Tempat, Organisasi, dan Istilah Khusus

Anime tertentu memiliki banyak istilah khusus seperti:
  • Nama organisasi.
  • Nama kemampuan.
  • Nama negara.
  • Nama teknologi.
  • Gelar.
  • Istilah dunia fiksi.
Sebelum menerjemahkan episode, sebaiknya buat glossary. Contoh:
Istilah AsliTerjemahan
SeitokaiOSIS
MahouSihir
OusamaRaja
Untuk istilah fiksi, catat bentuk yang sudah dipilih agar tidak berubah-ubah pada episode berikutnya. Konsistensi sangat penting terutama ketika mengerjakan anime berseri.

Bayangkan sebuah kemampuan diterjemahkan:

Episode 1:
Mata Penghancur
Episode 2:
Mata Kehancuran
Episode 3:
Destruction Eye
Penonton dapat mengira ketiganya merupakan kemampuan berbeda. Karena itu buat catatan untuk:
  • Nama karakter.
  • Nama lokasi.
  • Nama organisasi.
  • Nama kemampuan.
  • Gelar.
  • Istilah khusus.
  • Kata ganti karakter.
  • Honorific.
Hindari terjemahan yang terlalu kaku, terjemahan yang terlalu mengikuti struktur bahasa Jepang dapat terdengar asing dalam bahasa Indonesia. Contoh:
Mengenai hal itu, saya berpikir bahwa melakukannya adalah tidak mungkin.
Strukturnya dapat dibuat jauh lebih natural:

Kurasa itu mustahil.
Subtitle tidak perlu mempertahankan jumlah kata atau struktur kalimat bahasa sumber. Yang perlu dipertahankan adalah makna, konteks, dan karakter.

Jangan Berlebihan Menggunakan Bahasa Gaul

Natural tidak selalu berarti harus menggunakan sebanyak mungkin bahasa gaul. Contoh:
Buset, bro, gila sih, gue literally nggak relate banget.
Jika karakter dan konteks tidak mendukung gaya tersebut, terjemahan akan terasa dipaksakan. Gunakan bahasa casual secukupnya karena tujuan subtitle adalah membuat karakter terasa natural, bukan membuat semua karakter berbicara dengan gaya yang sama.

Perhatikan juga umur dan hubungan karakter karena cara seorang murid berbicara kepada guru kemungkinan berbeda dengan cara dia berbicara kepada sahabatnya. Contoh kepada guru:
Maaf, Sensei (Guru). Saya terlambat.
Kepada teman:
Maaf, aku telat.
Kepada saudara dekat:
Eh, maaf. Telat.
Perubahan kecil tersebut dapat membantu membangun hubungan antarkarakter.

On-Screen Text dan Dialog

Jangan langsung memperlakukan semua tulisan sebagai dialog. Dalam video dapat muncul:
  • Dialog.
  • Papan nama.
  • Pesan smartphone.
  • Nama lokasi.
  • Judul episode.
  • Catatan.
  • Poster.
  • Tulisan pada layar komputer.
Contoh:
Tokyo Station
Tulisan tersebut mungkin perlu diterjemahkan sebagai sign, bukan dimasukkan sebagai dialog utama
Pengaturan tampilan sign dan typesetting akan dibahas pada artikel mendatang. Nantikan saja, ya!
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
KesalahanSebab Akibat
Menerjemahkan Terlalu LiteralMengikuti setiap kata bahasa sumber tanpa memperhatikan naturalitas.
Kalimat Terlalu PanjangPenonton tidak memiliki cukup waktu untuk membaca.
Terlalu Banyak Bahasa GaulMembuat karakter kehilangan kepribadiannya.
Tidak KonsistenIstilah dan kata ganti berubah tanpa alasan.
Line Break SembaranganKalimat dipotong pada bagian yang membuatnya sulit dibaca.
Menghapus Informasi PentingTerlalu banyak meringkas dialog.
Menambahkan Informasi yang Tidak AdaTerjemahan menjadi interpretasi berlebihan.
Semua Karakter Berbicara SamaKepribadian masing-masing karakter menjadi hilang.
Terlalu Fokus pada KalimatMelupakan konteks scene dan dialog sebelumnya.

Workflow Penulisan Dialog

Workflow sederhana yang dapat digunakan ketika menerjemahkan sebuah line:
Dengarkan dialog
↓
Pahami konteks
↓
Tentukan maksud kalimat
↓
Buat terjemahan
↓
Natural-kan bahasa
↓
Periksa panjang teks
↓
Periksa karakterisasi
↓
Periksa konsistensi
↓
Preview pada video
Jangan langsung berhenti setelah mendapatkan arti sebuah kalimat, namun lihat kembali hasilnya ketika ditampilkan pada video. Subtitle yang terlihat baik di text editor belum tentu terasa natural ketika mengikuti adegannya. 

Sebelum menganggap sebuah line selesai, periksalah kembali:
  • Apakah maknanya sudah benar?
  • Apakah terdengar natural dalam bahasa Indonesia?
  • Apakah sesuai dengan karakter yang berbicara?
  • Apakah teks terlalu panjang?
  • Apakah informasi penting masih dipertahankan?
  • Apakah line break sudah nyaman?
  • Apakah tanda bacanya tepat?
  • Apakah istilahnya konsisten?
  • Apakah kata gantinya sesuai?
  • Apakah subtitle nyaman ketika dilihat bersama video?
Jika jawabannya sudah baik, dialog tersebut dapat dilanjutkan ke proses berikutnya.

Artikel terkait

Memuat...